Recent twitter entries...

  •  

Para perampok di Jalan Tuhan

Posted by artikelir | Posted in Filsafat, Tasawwuf | Posted on 15-02-2010

0

Oleh: Jalaluddin Rakhmat

Sects and Errors are synonymous. If you are a peripatetic and I am a Platonist, then we are both wrong, for you combat Plato only because his illusions offend you, and I dislike Aristotle only because it seems to me that he doesn’t know what he’s talking about.

Voltaire, Philosophical Dictionary
“Aku tidak bisa melepaskan diri dari bayangan guruku. Ia masuk dalam mimpi-mimpiku. Pada suatu malam aku pernah terbangun. Aku duduk dalam lingkaran. Di situ ada guruku, Nabi Muhammad, Tuhan, dan Yesus. Guruku menyebutku Hafshah, salah seorang istri Nabi Muhammad. Aku pernah melihat Nabi Muhammad datang kepadaku; memanggilku dengan mesra. Pendeknya, kemudian terjadilah pergaulan suami-istri antara Hafshah dan Nabi Muhammad. Beberapa saat setelah itu, aku baru sadar bahwa Hafshah itu aku dan Nabi Muhammad itu adalah guruku itu,” Helen, bukan nama sebenarnya, mengadukan nasibnya kepadaku.

Helen sarjana dan profesional. Ia cerdas dan kaya. Ketika ia mulai tertarik pada hal-hal spiritual, kawannya membawanya ke pengajian tasawuf. Ia diperkenalkan kepada seorang ustad. Bukan ustad terkenal. Tampaknya ustad itu tidak mengisi pengajian umum. Ia memusatkan pengajarannya pada komunitas khusus dengan tema khusus. Di seluruh alam semesta, hanya dia yang mempunyai pengetahuan khusus, ilmu makrifat. Ia mau berbagi ilmu makrifat itu hanya kepada manusia-manusia pilihan yang ingin berjumpa dengan Tuhan. Dengan mengamalkan ritus-ritus tertentu—berzikir, berpuasa, dan bersemadi—Helen berhasil melihat Tuhan. Berkali-kali sesudah itu, ia mengalami ”trans”. Ia bukan hanya berjumpa dengan Tuhan. Ia juga dapat berkencan dengan para nabi.

Makin ”dalam” pengalaman rohaniahnya, makin bergantung dia kepada sang ustad. Helen yang cerdas kehilangan daya kritisnya ketika ia mendengar kalimat-kalimat gurunya. Ia berikan apa pun yang dimintanya, mulai waktu, uang, kendaraan, rumah, sampai kehormatannya. Ia sudah menjadi sujet di hadapan juru hipnotis. Semua dilakukannya di bawah sadar, sampai ia disentakkan oleh salah satu kuliah psikologi. Sebuah buku dengan judul Saints and Madmen menyadarkan dia bahwa gurunya dan juga dia bukan orang suci, tapi orang gila. Ia bukan mengalami pengalaman rohaniah, tapi gangguan mental. Sayangnya, kesadaran itu muncul setelah ia kehilangan banyak.

Tak terhitung banyak orang seperti Helen. Manusia modern yang jenuh dengan materialisme gersang. Ia merindukan pengalaman rohaniah. Ada yang kosong dalam jiwanya. Kekosongan itu tidak bisa diisi dengan seks, hiburan, kerja, bahkan ajaran-ajaran agama yang dianut oleh kebanyakan masyarakat. Ia ingin getting connected dengan Yang Ilahi. Ia sudah kecapaian dengan logika dan angka. Ia ingin meninggalkan dunia yang dingin dan kusam menuju alam yang hangat dan cemerlang. Ia ingin mendapat—sebut saja—pencerahan rohaniah. Ia tidak mendapatkannya dalam institusi-institusi agama.

Dalam kerinduan spiritual itu, muncullah guru. Ia menawarkan pengalaman rohaniah yang ”instan”. Kalau kamu sudah kecapaian dengan logika dan angka, masuklah bersama guru ke dalam dunia rasa dan percaya. Bunuh rasionalitas dan tumbuhkan spiritualitas (seakan-akan keduanya bertentangan). Dengan memanipulasi ajaran-ajaran esoterik dalam setiap agama, guru menegaskan—sambil mengutip Rumi—”di negeri cinta, akal digantung”.

Kalau akal sudah digantung, terbukalah peluang bagi guru untuk memanipulasi pikiran para pengikutnya. Aku menemukan bahwa teknik-teknik menggantung akal yang dilakukan para guru itu sepenuhnya melaksanakan nasihat Dostoyevsky dalam The Brother of Karamazov: ”Ada tiga kekuatan, dan hanya tiga, yang dapat menaklukkan dan melumpuhkan semangat para pemberontak ini. Yang tiga itu ialah mukjizat, misteri, dan otoritas.” Tentu saja hampir tidak ada di antara para guru itu yang membaca Dostoyevsky.

Mukjizat sebenarnya adalah kumpulan dari halusinasi, ilusi, dan delusi. Guru menciptakannya dengan ”merusak” otak pengikutnya melalui ritual yang aneh-aneh. Salah satu teknik yang paling populer dan paling efektif adalah pengurangan waktu tidur (sleep deprivation), apalagi bila dibarengi dengan tidak makan (food deprivation). Dalam keadaan normal, otak kita mensintesiskan ”pil tidur alamiah” sepanjang waktu bangun kita. Sesuai dengan ritme biologis, kita tidur pada waktu malam. Karena deprivasi tidur, pil tidur alamiah itu berakumulasi dan bermetabolasi menjadi produk-produk beracun. Lalu timbullah mula-mula gangguan mood—pergantian antara euforia dan depresi. Menyusul gangguan mata yang menimbulkan halusinasi (melihat cahaya dan benda-benda bergerak), delusi, dan puncaknya disorganisasi pikiran (sederhananya, gangguan jiwa). Seperti pengurangan tidur, guru juga menciptakan pengalaman rohaniah dengan upacara, seperti latihan masuk kubur, gerakan kolektif yang berulang-ulang, atau penggunaan obat-obat kimiawi. Murid mengira mereka mengalami pengalaman gaib. Ahli neurologi menyebutnya kerusakan otak (brain damage).

Karena pengalaman rohaniah yang mereka alami, mereka merasa dibawa ke alam gaib. Di sekitar kehidupan guru berkumpul berbagai misteri. Guru pemilik ilmu-ilmu yang sangat rahasia. Guru malah mengembangkan bahasa sendiri. Istilah-istilah agama diberi makna baru. Perjalanan bersama guru adalah perjalanan menyingkap tirai-tirai kegaiban. Murid tidak bisa menyingkap rahasia itu tanpa bimbingan guru. Seperti kata Dostoyevsky, dengan menggabungkan mukjizat, misteri, dan otoritas, bertekuklah jiwa-jiwa kritis ke kaki sang Pembawa Pencerahan.

Helen sekarang sadar bahwa ia telah jatuh kepada perampok di jalan Tuhan. Hati-hati, dalam perjalanan menuju pencerahan jiwa, Anda akan disabot oleh apa yang disebut Jean Marie-Abgrall sebagai Soul-Snatchers, para pencuri jiwa. Helen masih berjuang menyembuhkan luka-luka jiwanya; sebenarnya kerusakan dalam otaknya. Aku menganjurkan dia untuk berobat ke psikiater. Ia menolaknya.

Lama aku kehilangan Helen. Secara kebetulan, aku menemuinya dalam satu acara. Aku menanyakan mengapa ia tidak lagi mengontak aku. Ia menarik aku ke tempat sepi. Dengan muka yang penuh ketakutan, ia berbisik: gurunya sudah tahu bahwa ia telah melaporkan keadaannya kepadaku. Ia mendapat ancaman. Ia diperingatkan agar memutuskan semua hubungan dengan masyarakat di luar komunitasnya.

Bersamaan dengan hilangnya Helen, Juliet Howell, peneliti sufisme urban, muncul lagi di hadapanku. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ia mewawancaraiku perihal tasawuf di masyarakat kota. Waktu itu aku menyelenggarakan kelas-kelas tasawuf di daerah elite. Kali ini ia bertanya tentang pengalamanku membina tasawuf. Ia juga bertanya tentang yayasan kajian tasawuf yang aku kelola. Aku bilang aku sudah tidak lagi berurusan dengan tasawuf. Ia bertanya tentang muridku yang paling ”sufi”. Aku jawab, ”Ia sudah mencapai makrifat setelah belajar dikuburkan hidup-hidup.” Howell mendesak bagaimana caranya membedakan gerakan tasawuf yang benar dengan gerakan para perampok di jalan Tuhan. ”Gunakanlah ukuran UUD dan UUS,” jawabku, ”apabila Anda menemukan gerakan itu ujung-ujungnya duit atau ujung-ujungnya seks, Anda sudah disimpangkan dari jalan Tuhan. Ada dua juga yang membedakan saints dengan madmen: bila setelah mendapat pengalaman rohaniah, Anda merasa diri Anda rendah dan bergairah untuk menyebarkan kasih ke seluruh alam, Anda adalah orang suci. Bila Anda merasakan diri Anda lebih saleh daripada semua orang dan Anda hanya bergairah untuk mengasihi guru Anda, Anda adalah orang gila. Anda sudah masuk perangkap Soul-Snatchers. Gitu aja, kok repot!”


Jalaluddin Rakhmat
Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia
Sumber: tempointeraktif

Pentas Teater Koma : LIKU-LIKU JENDERAL SIE JIN KWIE

Posted by artikelir | Posted in Kritika, Sastra | Posted on 06-02-2010

0

Uki Bayu Sejati

Keinginan baik seseorang tidak serta merta ditanggapi secara baik oleh orang lain. Boleh jadi kata bijak ini tak perlu dibuktikan karena hampir semua kita pernah mengalaminya. Bayangkan, ketika negara sedang diliputi kecemasan oleh bakal datangnya musuh menyerbu datanglah seorang anak muda berkeinginan untuk mengabdi membela negaranya secara tulus, siapa nyana ternyata ditolak oleh jenderal yang melakukan rekruitment – padahal orang lain yang kemampuannya biasa2 saja bisa diterima dan diberi pangkat. Apa pasal? Ternyata, hanya karena orang muda ini bernama Sie Jin Kwie.

Disadur dari naskah karya penulis Tiongkok pada zaman Dinasti Yuan bernama Tiokengjian, abad 14, lantas diedit pada zaman dinasti Ming oleh Lokoanchung. Kisah Sie Jin Jwie pertama kali diterbitkan di Indonesia tahun 1894, dijadikan komik tahun 1953 dan dimuat bersambung di majalah Star Weekly. N. Riantiarno, yang menyutradarai pentas produksi Teater Koma ke 119, ini melakukan penjelajahan literatur sebelum menyadur. “Ada 12 versi Siejinkwie yang saya baca. Antara lain, Matjapat Siedjinkoei (berarti sudah digubah dalam bahasa Jawa. pen) dan komik karya Oerip “Pahlawan Berbadju Poetih,”ungkapnya menjelaskan semangat, juga kerja kerasnya menyunting naskah, yang awalnya diperkirakan berdurasi 7-8 jam menjadi sekitar 4 jam. Masih ada dua naskah Sie Jin Kwie yang nantinya akan dipentaskan juga.

Perjalanan nasib memang tidak lurus-lurus saja. Banyak liku-likunya. Apalagi bagi anak muda yang datang dari desa, sekalipun menguasai ilmu silat dan memiliki tenaga luar biasa. Jadi tentara – yang tampak luar: gagah dan berani – menjadi cita-cita sebagian anak-anak kita. Apalagi jika sudah mengenakan uniform, beserta asesoris: pangkat, tanda jasa, baret, dan senjata api. Supaya bisa jadi tentara harus lulus test fisik, psikologi dan pengetahuan umum. Yang lulusan SMP bakal digembleng jadi prajurit-tantama-bintara, yang lulusan SMA dilatih jadi perwira. Nah, ketika proses pendaftaran itulah, ternyata ada saja oknum entah makelar, entah orang dalam, yang meng-objek-kan formulir sampai kesanggupan untuk meluluskan – dengan imbalan uang. Nyaris sama seperti dialami Sie Jin Kwie, meski pada akhirnya diterima setelah bersiasat.

Multi Plot

Proses yang harus dijalani untuk menjadi jenderal boleh jadi berliku. Intrik, saling sikut dan menjatuhkan, utamanya di level petinggi negara, sebenarnya dapat dinyatakan sebagai isyarat lemahnya pertahanan negara. Dinasti Tang yang kala itu kaisarnya bernama Lisibin boleh jadi tak tahu bahwa di antara pembantu-pembantu utama, sebutlah : lingkaran inti alias ring 1, saling berebut pengaruh. Yang menonjol Litocong vs Thiosukwie. Tujuannya jelas siapa paling dekat bakal dapat jabatan prestisius: Panglima Perang. Sebab, pihak musuh dpp.Jenderal Kaesobun sudah mengirim ultimatum untuk menyerang.

Sementara, di awal adegan, Lisibin resah gelisah oleh mimpinya sendiri bahwa ia diselamatkan dari marabahaya oleh seorang pemuda berbaju putih bernama Sie Jin Kwie. Penasarannya bertambah setelah dapat info bahwa sosok pemuda itu ada di desa Pintu Naga, yang termasuk wilayah kekaisarannya. Mimpi dalam khasanah budaya Tiongkok memang memiliki pengaruh dalam hidup dan berkehidupan masyarakat. Tafsir terhadap mimpi sama kuatnya dengan, misalnya, analisa fengshui, shio, dan semacamnya.

Alih-alih membantu Kaisar untuk menemukan pemuda itu, Litocong yang merasa disepelekan – dihinakan, merancang gerakan anti kaisar didukung istri, anak dan saudara-saudaranya.

Sementara itu Sie Jin Kwie yang bekerja di rumah keluarga Liu sebagai pemelihara kuda tertimpa musibah gara-gara anak gadis induk semangnya, Liu Kim Hwa, menyelimuti dirinya dengan jubah. Jika dalam tayuban, cokek, gandrung para penonton yang ketiban sampur penari justru merasa beruntung, eh..jubah itu justru menjadikan Sie Jin Kwei bakal dilabrak habis – lantaran diduga berbuat tidak senonoh. Si gadis pun takut kemarahan Ayahnya, maka atas persetujuan ibunya ia melarikan diri ditemani inang pengasuh. Di suatu kuil Sie Jin Kwie dan Liu Kim Hwa bertemu, kemudian mereka menikah.

Di plot berikutnya, karena negara bersiap untuk perang, Sie Jin Kwei memantapkan niat untuk masuk menjadi tentara. Betapa kaget Thiosukwie – panglima perang – saat pemuda dari desa ini menyebutkan namanya. Nama yang dicari oleh Kaisar, yang bukan mustahil bakal menjadi orang kepercayaan. Maka dengan berbagai dalih Sie Jin Kwie ditolak, bahkan diancam hukuman penggal jika berani datang di lingkungan ketentaraan. Namun dengan siasat ganti nama akhirnya Sie Jin Kwie berhasil jadi tentara, bahkan karena dedikasinya ia mampu meraih pangkat Jenderal. Jaman doeloe memang kenaikan pangkat seperti roket memang bisa terjadi, jangan harap di jaman sekarang. Berkarier sebagai prajurit dengan penuh dedikasi. Namun, cobaan masih datang, ia difitnah yang menjadikannya harus bersiasat lagi: menjadi koki di dapur tentara namun tetap memimpin anak buahnya, yang disebut: Pasukan Dapur Tang.

Lakon Tiongkok klasik umumnya memang menggunakan multi plotbooklet tercatat tak kurang dari 42 pemain, beberapa di antaranya memainkan peran ganda alias double casting . Nano selaku sutradara dan Ohan Adiputra co-sutradara, tentu mengeluarkan energi ekstra untuk memilih siapa berperan sebagai apa, yang pas dan cocok – lantas mengupayakan memperkenalkan nama dan karakter tokoh-tokoh di pentas, sedemikian rupa – agar penonton mafhum. Karenanya – apa boleh buat – perbedaan antara satu dengan lain peran tentu harus detil, olah vokal maupun gerak lakunya. Budaya Tiongkok identik dengan silat. Elly Luthan dan Ratna Ully memilih dan menstilisasi “jurus” serta melatih pemain – baik perorangan maupun kelompok – agar tubuhnya luwes. Karena teater masa kini berdasarkan naskah – bukan spontanitas seperti teater tradisi, yang akrab dengan budaya lisan – maka pemain kudu menghafal dialog. Olah tubuh, olah vokal, olah pikir, olah rasa, dan lain-lain, umumnya dilatih sekitar 3 bulan.

Pertunjukan yng berkualitas memang membutuhkan energi yang tak sembarangan. Karenanya penting diupayakan pengelolaan stamina pemain dan staf panggung mengingat durasi lakon maupun lamanya pementasan. Rata-rata pentas Teater Koma setiap malam selama 2 minggu, juga ada yang sebulan. Asupan untuk jaga kesehatan yang diberikan kepada pemain usia muda: Rangga, pemeran Sie Jin Kwie, tentu berbeda dibandingkan pemain usia tua: Priyo S. Winardi, pemeran Lisibin, misalnya.

Teater tersaji berkat kerjasama kelompok, ibarat orkestra dengan berbagai alat musik dan ataupun ensemble koor yang harmonisasi bunyi/suaranya mesti prima. Dalam hal ini hubungan antar pemain kudu saling berbagi, saling menguatkan, di dalam maupun luar panggung.

Kritik & Bumbu
33 tahun berteater bukan hal biasa di negara yang pejabat-pejabatnya belum menjadikan kesenian sebagai penyeimbang kehidupan. Di Indonesia politik dan ekonomi menjadi panglima kehidupan bermasyarakat – itupun dilaksanakan dengan syahwat kekuasaan untuk pribadi dan golongan bukan untuk berbagi meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Maka itu ketika di suatu event ada pejabat yang menyatakan,”Kesenian itu bisa dirasakan kegunaannya jika masyarakatnya sudah sejahtera, seperti di Eropa, Amerika…,” siapa yang tidak berang mendengar ucapan seperti itu. Dia samasekali tidak menganggap ratusan ribu seniman, puluhan ribu kelompok kesenian yang terus menggeliat di berbagai wilayah di Nusantara – yang secara umum dapat menghibur penduduk, menetralisasikan kemelut hidup. Dampak dari akal bulus politikus dan konglomerat hitam yang mempertontonkan pelanggaran etika bahkan menginjak-injak rasa keadilan, sebenarnya sudah membuat rakyat muak, frustrasi, maka demo-demo jalanan menjadi saluran ekspresinya. Untunglah ada kesenian yang sedikit banyak meredam gejolak. Kok, seenaknya pejabat bilang begitu. Sontak saya tanggapi, ”Kesejahteraan? Justru itu tugas sampeyan. Selama ini apa yang sudah sampeyan kerjakan buat rakyat?!” – artinya dalam satu bingkai cerita terdapat beberapa persoalan, yang pada perkembangannya satu dan lain persoalan saling berkaitan. Dan ini berarti banyak peran. Dari

Memang, ada kritik menyesatkan ada kritik menyehatkan. Teater Koma, yang sering dinyatakan, bahkan oleh para pendirinya, sebagai ”perkawinan Teater Ketjil dengan Teater Populer,” di hampir seluruh lakon garapannya seperti ingin menyuarakan protes keras atas situasi kondisi negara, melalui kritik-kritik – yang dikemas dalam bentuk ”opera” lengkap dengan bumbu nyanyi-tari-humor dan warna-warni kemeriahan panggung. Buktinya, sempat mengalami 4 kali pencekalan : tahun 1978, 1989, 1990, juga interogasi pihak berwajib maupun ancaman bom.

Justru karena menabalkan nama : k o m a – yang terus berproses sampai entah kapan menjadi titik –kelompok teater ini mampu kiprah. Semangat kebersamaan menjadikan Teater Koma keluarga besar kesenian yang mampu membangun jaringan dengan berbagai elemen masyarakat. Tidak hanya ketika mencari, memperoleh dan mengolah-sadur naskah Sie Jin Kwei saja Nano melakukan penjelajahan dan pendalaman data/informasi, melainkan hampir di semua naskah lakon yang ditulis dan disutradarainya, juga dalam kerjasama dengan pendukung-pendukung artistiknya.

Lihatlah tingkat kesulitan tinggi dalam penggarapan lakon Sie Jin Kwei. Perhatikan detil ornamen dan motif busana nyaris serumit tata rias setiap peran. Sekitar 250 potong pakaian untuk 40-an pemeran, belum lagi untuk pemain musik dan pengurus artistik. Ciri budaya Cina dibaurkan dengan Jawa. Pasangan suami-istri Rima Amanda dan Subarkah dan stafnya bekerja keras untuk mengurai dan mengatasi kerumitan, demikian juga peran Sena Sukarya dan stafnya merias wajah para pemain. Jika seorang pemain untuk mengenakan busana dan dirias butuh 7 menit saja, maka untuk 40-an pemain perlu waktu 280 menit alias 4 jam. Bayangkan kesibukan mereka di belakang layar. Behind the scene memang penting diinformasikan kepada khalayak ramai – terutama pejabat – bahwa kesenian bukan hal yang remeh-temeh melainkan sesuatu yang wajib digeluti secara istimewa.

Cepat & Tepat

Begitu pun ihwal penataan panggung. Hemat saya melalui pembauran unsur-unsur dari Opera Cina, Golek Menak, Potehi, Wayang Kulit Cina-Jawa, Wayang Wong dan Wayang Tavip banyak sisi yang ingin diraih Nano – sebagai jenderal merancang strategi, didampingi Syaeful Anwar selaku penasehat artistik – bukan hanya menciptakan atmosfir Tiongkok beserta akulturisasinya dengan budaya Nusantara masa lalu, namun juga mencoba reminding – mengingatkan kepada kita bahwa ragam pertunjukan teater tempo doeloe begitu unik, dan mencerminkan kreativitas seniman yang bergaul dengan tradisi budaya masyarakatnya. Upaya mendukungnya tak bisa manis dibibir, peduli kesenian lokal dan seniman yang menghidupinya adalah bagian dari strategi menjalani globalisasi.

Pembauran budaya ibarat masa pacaran muda-mudi. Proses saling menjajagi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi belum kawin, belum dipadukan. Bukan hal yang mudah karena setiap unsur memiliki ciri khas. Pembangunan set dekor beserta properti pendukung benar-benar memperhitungkan tidak hanya besar dan luasnya panggung melainkan juga segi teknis masuk dan keluar sesuai pergantian adegan. Skenografer Onny Suryono dan pengarah tehnik Tinton Prianggoro bekerjasama untuk menterjemahkan naskah dan arahan sutradara agar set ikut mendukung pengadeganan. Adegan Kaisar berbincang dengan stafnya berlatar belakang dinding istana, tentu berbeda dengan adegan pertemuan dan pernikahan Sie Jin Kwie dan Liu Kim Hwa di kuil, misalnya. Ada pula suguhan wayang kulit lengkap dengan geber/layar putihnya. Ganti adegan, ganti set, berulangkali. Ada yang naik turun, juga yang digeser dari/ke arah kiri kanan panggung. Untung ada Sari Madjid, maestro manajemen panggung, yang bersama stafnya kerja keras memindah-letakkan set-set itu secara cepat dan tepat.Karena menggunakan panggung proscenium bentuk segi empat menjorok ke dalam dan menghadap barisan penonton di depan, maka selain materi yang konkrit dan masif ada pula materi yang hadir untuk membangun atmosfir adegan, yakni cahaya dan suara. Musik dpp. Idrus Madani (beberapa tahun belakangan merangkap jadi aktor sinetron aliran ”komedi”) didukung 11 pemusik handal dan 5 pesinden mengaransemen lagu dan bunyian agar adegan bertambah hidup. Nah, Totom Kodrat yang menjaga kualitas tata suara dan akustik, serta Iskandar K. Loedin menggarap pencahayaan berperan penting – meski nyaris sering dilupakan, lantaran posisinya ada di belakang tempat duduk penonton. Juga, Ratna Riantiarno, yang hadir di antara penonton, sebagai pimpinan produksi – kehandalannya tak perlu diragukan, dan sudah menurunkan ilmu kepada putrinya Dika, yang mendesign grafis seluruh materi publikasi

Kerja bareng yang komplit. Kelompok kesenian memang seharusnya dikelola dengan manajemen setara perusahaan profesional. Untuk menyuguhkan pentas teater skala besar, semua anggota kelompok menyumbangkan pikiran dan kemampuan sesuai job-discription -nya. Semua ikut andil. Wewarah tokoh teater selalu terngiang, ”Tak ada peran kecil, yang ada pemain (berjiwa) kecil.”

Penggarapan lakon Sie Jin Kwie kembali membuktikan bahwa Teater Koma bekerja keras menyuguhkan pentas – sebutlah multi media – yang kualitas sebanding dengan karya-karya seni rupa, musik, film, tari, dan film warga bangsa Indonesia. Presiden dan petinggi negara sudah bersedia menonton film di bioskop, sejajar dengan saudara-saudaranya sebangsa, tentu juga bakal menonton karya teater, karena – sekali lagi – karena kesenian adalah O 2 – oksigen yang menyegarkan dan menyeimbangkan kehidupan.

Beragam pesan terselubung hadir di pentas Sie Jin Kwie Teater Koma – karena memperingati 33 tahun kiprahnya, sekaligus menyemarakkan Tahun Baru Imlek. 2561. Ini kutipan kalimat bijak bakal calon penonton :

Memahami orang lain adalah bijak
Memahami diri sendiri adalah waspada
Menaklukan orang lain adalah isyarat kekuatan
Menaklukan diri sendiri isyarat kekuasaan
Tahu batas kecukupan berarti kaya
Bertindak terpaksa artinya nekad
Yang memaknai jati diri akan dikenang
Meski mati, sebetulnya berusia panjang
Jadi bermaknalah, maka kau diberkati
.

Selamat menjadi saksi.



Pamulang, 06-01-10
Penulis : Uki Bayu Sedjati
Foto-foto : Heryus Saputro

Horor + rumor made in televisi Indonesia = Humor

Posted by artikelir | Posted in Kritika, POSTmedern, Satire | Posted on 02-02-2010

0

Veven Sp. Wardhana

MICK MALTIN, Marsha Porter, dan Leonard Maltin perlu bertandang ke Indonesia, terutama untuk menengok jagad persinemaan, lebih khusus lagi: sinema televisi—baik yang serial, seri, maupun film lepas yang sekali tayang langsung tamat. Mick dan Marsha menyusun buku tahunan Video Movie Guide (Ballantine Book, New York), sementara Leonard menyusun buku (juga tahunan) Leonard Maltin’s Television Movie and Video Guide (New American Library, New York). Dalam buku-buku itu, dengan sedikit perbedaan, mereka membagi-bagi kategorisasi film atau sinema yang terdiri dari: action (alias laga) atau adventure film, lalu children’s viewing alias film untuk anak-anak, komedi, dokumenter, drama, horor, musikal, misteri atawa suspens, fantasi atau science-fiction, western yang model-model film koboi itu, dan film berbahasa asing.

Dalam buku duo Mick-Marsha, juga Leonard, tak ada kategorisasi sinema reliji—satu hal yang ada dalam hampir seluruh tayangan televisi Indonesia-Raya, setidaknya macam itulah terminologi yang diusung para pengelola siaran televisi Indonesia. Kesimpulannya? Sangat bisa jadi, buku-buku Mick-Marsha dan Leonard kurang komplet. Itu kesimpulan pertama. Kesimpulan kedua: pengkategorisasian ala Indonesia itu terlalu mengada-ada. Maknanya: salah satu kesimpulan tersebut pasti tidak pada tempatnya. Mana yang benar, juga berarti: mana yang salah? Atau masyarakat Indonesia memiliki nuansa relijius ketimbang Amerika Serikat—kawasan bersemayamnya sinema Hollywood, yang menjadi isi utama buku-buku Mick, Marsha, Leonard?

RELIJI(US) ITU KOMEDI(K)
Macam mana pula tayangan yang dimaksudkan sinema reliji? Contoh terawal terdapat lewat layar Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), yakni seri Rahasia Ilahi dan Takdir Ilahi. Saya katakan terawal, tengah Maret 2005, karena di kemudian hari, tayangan ala TPI ini menjadi trend-setter atau kiblat bagi televisi-televisi lain dalam memproduksi dan memprogram sinema reliji atau relijius.

Rahasia Ilahi maupun Takdir Ilahi mempunyai pola kisah yang sama, yakni perihal berbagai hal yang menurut umum berada di luar nalar, misalnya: sesosok jenazah gagal dikebumikan karena liang lahatnya mengerut-mengecil dan/atau jenazah tersebut kian memanjang bahkan sejak dalam keranda; atau seorang penjudi terkubur hidup-hidup karena tubuhnya terserap ke dalam tanah; atau seseorang yang sudah dikuburkan namun masih menguarkan bau busuk kendati tanah sudah dikatupkan dan beruntai-untai bunga ditebarkan di atas pusara; atau seseorang yang sudah meninggal, kembali bangkit lantaran masih belum sempat melunasi berderet janji.

Stasiun lain, Surya Citra Televisi (SCTV), saban pekan, sejak 28 Maret 2005, menayangkan seri Astaghfirullah, yang diniatkan sebagai sinema relijius pula. Dengan juruskenario H. Misbach Yusa Biran dan sutradara kampiun Chaerul Umam, pola kisah Astaghfirullah juga sama dan sebangun dengan Takdir Ilahi dan Rahasia Ilahi.

Lantas, TPI, pada 31 Maret 2005, menayangkan salah satu episode seri Tuhan Ada di Mana-mana, yang berkisah perihal seorang penduduk yang perutnya terluka dan menebar bau busuk ke segenap kampung. Mantri kesehatan—sebagai representasi dunia kedokteran—tak mampu menyembuhkan luka itu. Luka yang membusuk dan sangat mengganggu masyarakat itu baru bisa diobati dan dinetralkan oleh dedaunan yang diramu dan didoai oleh seorang ustad. Bau busuk itu tidak sekadar lenyap, luka yang menyudet perut dan merambahkan berpuluh-puluh ulat itu bahkan kemudian mengatup rapat. Sembuh pula penyakit laku-lajak nan tak terpuji dari seseorang tadi, yang kemudian menjadi taat beribadah—sebagai bentuk tobat dia pada pelbagai hal yang dilarang Allah.

Jika disederhanakan, jalinan kisahnya adalah: kekuatan jahat akan segera sirna jika dilawan oleh kekuatan baik, sementara kekuatan baik itu digambarkan lewat sosok kiai, atau ustad, atau ulama yang menyitir ayat-ayat suci al-Quran. Dengan pola dramaturgi dan jalinan kisah macam ini, sesungguhnya kisah-kisah drakula, vampire, atau yang sejenisnya punya kesejajaran dengan sinema reliji made in Indonesia itu. Hanya saja, kekuatan baik dalam sinema Hollywood itu digambarkan melalui sosok pendeta atau pastur, atau—dalam sinema Hong Kong atau Mandarin—melalui sosok sinshe atau pendekar yang mampu merapal mantra. Pastur dan pendeta mempergunakan air suci yang sudah diberkati atau silang-salib sebagai medium kekuatan baik, sementara medium sinshe adalah rajah yang dirapal dan ditorehkan (biasanya dalam warna merah) di atas lembar-lembar kertas berwarna kuning. Van Helsing (Stephen Sommers, 2004), Dracula (Francis Ford Coppola, 1992), Dracula 2000 (Patrick Lussier, 2000), seri televisi Buffy the Vampire Slayer (Fran Rubel Kuzui, 1997), juga sinema Mandarin macam Mr. Vampire (Ricky Lau, 1998), Dating a Vampire (Clarence Fok Yiu-leung, 2006), dan Vampire Family (Eric Tsang Chi-wai, 1993) adalah sedikit contoh di antara berjibun judul-judul lainnya.

Jika masih mau menderetkannya lagi, beberapa judul bisa disebutkan, antara lain: The Omen (Richard Downer, 1976), The Exorcist (Willian Friedkin, 1973), The Exorcist II: The Heretic (John Boorman, 1977), termasuk berbagai versi lama Dracula (Tod Browning, 1931; Dan Curtis, 1973; John Badham, 1979).

Jika pola kisah dan pola dramaturginya sama dan sebangun, sementara pembedanya hanyalah pada sosok yang menjadi perantara kekuatan baik—yang Islam atau ustad atau kiai atau guru mengaji dianggap bergenre reliji, sementara yang pendeta, pastur, atau sinshe masuk genre horor—sungguh sangat naifnya pembedaan atau pengkategorisasian itu. Atau lantaran penyitir ayat-ayat suci itu asli-tulen-sejati ustad macam Uje alias Ustad Jeffry, Ustad Yusuf Mansur, selain Ustad Ilham Arifin yang menjadi pemeran cameo—sementara para pemuka agama dalam film Hollywood dan sinema Mandarin itu hanyalah sekadar aktor yang berseniperan sehingga bukan asli, lho ya… apa yang menjadikan versi Indonesia itu dinamai tayangan relijius? Hmmm…, ini bukan naif, melainkan, sekali lagi: lucu sangat!

Lantas, pertanyaannya adalah: adakah para pengusung istilah sinema reliji itu semata mengada-ada? Mengada-ada sebagaimana penciptaan istilah FTV (dari: film televisi) untuk tayangan sinema-televisi yang sekali tayang langsung usai selain untuk membedakannya dengan seri dan serial yang bersambungan itu—yang tampaknya akhirnya dimaksudkan untuk membedakannya dengan sinetron? Jika benar itu sebagai langkah mengada-ada—yang sebetulnya untuk memudahkan perubrikan dan ‘penyamaan bahasa’ antara pemasang iklan dan pengelola penyiaran televisi—bagi saya, itu sungguh menggelikan. Benar: menggelikan dalam arti bikin tertawa laiknya mata acara komedi atau humor yang memang diniatkan untuk memancing syaraf tawa. Menggelikan dalam makna yang sesungguhnya, bukan dalam arti sinis, meledek, ngeyèk, atau mengetawai.

Patokan hal-hal yang memancing syaraf tawa, bagi saya, adalah yang pernah dirumuskan oleh Teguh S, komandan kelompok pabrik tawa Srimulat. Katanya, sesuatu itu menjadi lucu karena adanya penjungkirbalikan logika. Contoh konkretnya: ada jongos menjadi majikan, yang memperlakukan majikan bak jongos—sementara penonton tahu relasi antarmajikan-jongos tersebut, sehingga metakomunikasi terbuhul dalam diri penonton yang menganggap ‘wajar’ akan adanya pembantu yang naik pangkat menjadi majikan, dan seterusnya.

Dalam sisi tertentu, kelucuan itu bahkan sangat tipis batasnya dengan sadisme. Contoh gamblang yang sangat klise adalah kita ketawa melihat seseorang kejeblos riol selokan yang menganga. Dalam logika (pementasan) Srimulat: penonton paham benar ada sosok Drakula yang berada di belakang jongos yang sok berani melawan iblis-setan-iprit—entah demi berlagak di depan babu yang dia taksir, atau di hadapan majikannya agar gajinya dinaikkan—sementara sang jongos sama sekali tak menyadari kehadiran sosok Drakula yang ready for use untuk mencekik leher sang jongos dan mencucup tengkuknya—dan penonton terbahak karenanya.

Ada sesuatu yang sama-sama diketahui (riol menganga, Drakula ready for use), namun tak diketahui sosok lain, sementara sosok lain itu dengan gaya petèntang-petèntèng menganggap sesuatu-yang-nyata-kita-tahu itu tidak ada. Bersejajar dengan para pengelola media siaran televisi: menganggap tak ada sinema horor, karena yang ada adalah sinema reliji, maka terus saja para pengelola itu melangkah pasti dengan terminologi sinema reliji; jadinya, ya menimbulkan ketawa. Lebih tegas dari sekadar menganggap tiada sinema horor yang patut disangga melainkan sinema reliji, adalah menganggap tiada otak dalam benak masyarakat atau konsumen atau pemirsa atau penonton, sehingga semau-maunya belaka para pengelola itu menyemburatkan berbagai istilah, seakan istilah itu hanya pantas ada setelah dilahirkan para pengelola siaran yang berkongsi dengan rumahproduksi yang berkolusi dengan pemasang iklan melalui biro iklan yang berkoalisi dengan penghitung pemeringkatan, semuanya tak hanya memancing syaraf bahak, melainkan juga berkesinambungan dengan subsyaraf airmata khusus untuk rasa geli hingga terpingkal-pingkal. (Catatan: ada subsyaraf airmata lainnya, yakni: untuk rasa sedih).

RUMOR ITU HUMOR
Selain murah senyum (yang tak berkait dengan kelucuan), bangsa Indonesia nyatanya juga murah—bahkan royal—menciptakan istilah. “Sinema relijius” adalah salah satu contoh konkretnya. Contoh lainnya: istilah “infotainmen”, yang dimaksudkan sebagai informasi perihal dunia entertainmen. Dunia hiburan. Padahal, dengan mengacu pada istilah edutainment, sebagai misal, yang berarti pendidikan dalam format nan menghibur, semestinyalah “infotainmen” itu dijabarkan sebagai: informasi dalam bentuk yang menghibur. Yang terjadi, dalam bukti di layar segenap televisi Indonesia adalah: tayangan infotainmen berisi informasi mengenai dunia penghibur, entertainer, dan lebih khusus lagi sas-sus (dari: desas-desus) perihal para penghibur itu. Misalnya: apakah komedian Tora Sudiro diam-diam sudah menikah lagi setelah resmi menduda; bukti-buktipun coba dikumpulkan, antara lain: makan siang bersama siapa, nonton konser menggandeng siapa, ke luar kota mana dan dalam saat yang sama perempuan mana yang pergi ke kota yang sama.

Atau: jangan-jangan Artika Sari Dewi sudah berpisah dengan Baim, suaminya; buktinya: Artika datang sendirian dalam acara pergelaran busana, tanpa disertai Baim, padahal Baim sedang tidak ada konser musik, juga tidak sedang sakit. Atau: Pasha Ungu, ternyata hendak menjalin asmara dengan Alyssa Subandono, yang datang saat kelompok Ungu pentas, dan Alyssa membawa serta seikat bunga persembahan untuk Pasha, yang baru menduda; sementara Rahma Azhari tak hanya tergetar oleh lagu kelompok musik Ungu, melainkan juga tergila-gila pada sosok Pasha. Dan seterusnya.

Artika berangkat ke pergelaran busana adalah fakta, juga dia datang tanpa dikawal Baim juga tak bisa dikabarkan sebaliknya, namun apakah maknanya sebatas: dia berpisah dengan suaminya? Tayangan infotainmen kurang membuka diri pada kemungkinan makna bahwa Artika dan Baim, masing-masing tenggelam dalam kesibukan, dan Baim memberi kepercayaan penuh pada istrinya untuk berkiprah tanpa harus dikawal dirinya sebagai suami. Sementara, Rahma memang berucap suka pada lagu dan sosok Pasha, dan itu dilontarkan sebagai pernyataan spontan, yang tak berarti kenyataannya dia menguber-uber Pasha. Namun, macam itulah pemaknaan ala infotainmen: banyak yang menggilai Pasha, termasuk Rahma!

Jabarannya, infotainmen tak hendak memilah dan memisah mana telor mana bebuahan (baca: mana rumor mana kenyataan) semata karena keduanya bisa sama-sama terkesan bulat!

Sudah salah bikin istilah, untuk memilah mana telor mana buah pun mereka ogah. Sudah begitu, mereka pun menyejajarkan info tentang dunia hiburan dan penghibur dengan info perihal figur publik, atau dikerenkan dalam bahasa Inggris: public figure. Padahal, figur publik adalah seseorang yang karena kewenangannya mampu merumuskan suatu kebijakan—tertulis atau tidak—yang bisa mengatur kehidupan masyarakat atau publik. Para pejabat, termasuk sebagai figur publik. Pemimpin informal, termasuk ulama, ustad, pastur, dan yang sederajatnya juga termasuk di dalamnya. Jika ada pengacara yang sekaligus punya peran ganda sebagai penghibur—atau sebaliknya: penghibur menjadi anggota dewan—maka yang melekat pada dirinya sebagai figur publik adalah posisi pengacara dan/atau anggota dewan itu. Posisi sebagai artis bukanlah sebagai figur publik atau sosok khalayak, melainkan sekadar pesohor atau orang kondang.

Sudah media salah menempatkan makna figur publik, eh… para pesohor inipun menyebut diri mereka sebagai public figure, seakan-akan para pesohor ini telah menciptakan sebuah kebijakan yang berakibat pada nasib publik. Adakah para pesohor atau artis atau selebritas ini narsistik? Tidak. Mereka sedang memainkan peran komedik. Sungguh bikin gemas sekaligus lucu.

Lantaran penyejajaran sekaligus pengidentikan pesohor dengan figur publik alias sosok khalayak inilah yang menjadikan para pekerja infotainmen merasa sah untuk membongkar apapun yang ada dalam diri para pesohor; tak sebatas membongkar isi dompet pesohor, tak sebatas mengudak-udak isi tas pesohor, bahkan apa yang dipersepsikan pengelola infotainmen pun ditempatkan sebagai fakta yang niscaya harus disosialisasikan atau diungkap ke hadapan publik, masyarakat, penduduk, khalayak. Itulah tampaknya inti ideologi kebebasan mengemukakan informasi; tak penting bahwa yang dibutuhkan publik adalah informasi faktual sosiologis yang bermanfaat bagi khalayak untuk merumuskan pendapatnya berkait dengan kehidupan sosial politik, bukan kehidupan personal psikologik, bukan informasi personal pesohor.

Informasi kehidupan personal pesohor sebatas memenuhi kebutuhan personal psikologik: kalau tak tahu informasi personal pesohor akan merasa ketinggalan bahan gunjingan atau rerumpian. Berbeda dibandingkan dengan informasi faktual para sosok khalayak, politikus, pengacara, pemimpin lembaga negara, fungsionaris partai politik, dan sebangsanya, publik butuh jejak-rekam mereka, termasuk di antaranya calon petinggi lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), misalnya, atau calon menteri, kandidat bupati, dan seterusnya agar kita percaya dan yakin bahwa akan benar-benar terwujud kepemerintahan yang bersih.

Hal itu sama dan sebangun dengan kebutuhan atas jejak-rekam para calon presiden dan calon wakil presiden—yang tak sebatas angka nominal kekayaannya (kalaupun dibutuhkan, ya: dari mana muasal kekayaan itu disusun dan ditumpuk)—agar kita tak salah pilih mencontrengnya lantaran mereka akan membawa bahtera kehidupan negeri ini sepanjang lima tahun ke depan, yang pasti akan diekori dampak pada tahun-tahun kemudiannya.

Namun, nasi sudah kadung jadi kerak, para pekerja infotainmen yakin benar bahwa pengungkapan skandal seks pesohor sama maknanya dengan pengungkapan skandal korupsi, kejahatan hak asasi manusia, dan sejenisnya, sehingga jika ada pesohor yang bungkam mulut ogah diwawancana perihal persoalan personal rumahtangganya, pesohor itu kontan disindir dengan julukan Miss No Comment—sebagaimana pernah disandangkan ke Dessy Ratnasari.

Dessy Ratnasari tak semata mendapat julukan—yang sama sekali tak diniatkan sebagai pelucuan—melainkan juga sikap antipati, resmi atau pun tak resmi: saat Dessy naik panggung atau podium, sorakan “huuu…” panjang sebagai ledekan didengungkan, yang dalam makna tertentu berarti sebagai sikap penjauhan Dessy dari pemberitaan. Macam itulah kelucuan media dan jurnalisnya: di satu sisi ingin bebas mendapatkan informasi demi pemenuhan hak publik atas informasi, di lain sisi mereka melakukan aksi sepihak menutup informasi tanpa bertanya lebih dulu perlu tidaknya publik atas penyetopan pemberitaan tersebut. Para jurnalis ingkar pada istilah yang mereka sandang sendiri jauh hari sebagai kuli-tinta. Kuli! Sebagai kuli, jurnalis—atau orang media umumnya—adalah jongos bagi publik yang mempunyai hak atas informasi. Jadinya, kebebasan media itu bukan sebagai sebatas keistimewaan yang begitu saja diberkahkan pada jurnalis dan orang media, melainkan sebagai keniscayaan bagi hak publik atas informasi yang benar itu. Bahwa sekarang tak lagi pakai fulpen atau bolpoin yang bertinta, melainkan pakai disket atau usb-flash—dan tak harus di-print out yang mempergunakan tinta—atau langsung pakai komputer via movie maker dan seperangkat teknologi informasi kiwari, tetap saja: jurnalis, presenter, dan pengelola media umumnya adalah kuli!

Tak berarti saya ingin menggariskan bahwa para insan media telah lupa asal muasal, alpa kacang akan kulitnya, lalai atas ideologi awal keberadaan media, namun saya justru ingin menandaskan bahwa mereka sedang melawak—mereka sadari atau tidak.

Memang, dunia hiburan gegap dengan kekocakan demi kekocakan. Sudah salah kaprah istilah, salah sikap mencampuradukkan informasi psikologis dengan sosiologis, sehingga bersambungan ke pencampuradukan figur publik yang memang bertanggungjawab pada publik dan figur yang sekadar sohor dan kondang di mata khalayak, masih pula membuhulkan kelucuan lewat penggunaan istilah investigasi, yang makna sejatinya adalah: pelacakan dan pengungkapan perihal sesuatu yang punya hubungan dan dampak dengan banyak khalayak, sementara sesuatu itu kerap disembunyikan.

Seorang artis yang memilih menghindar tak memberi keterangan perihal putusnya hubungan perkasihannya tentu tak terkategorikan sebagai langkah penyembunyian fakta, apalagi putus cinta itu lebih bersifat personal, yang tak bikin negeri bangkrut karena masyarakat tak tahu musabab putusnya tali cinta itu. Dalam tayangan infotainmen yang kerap dinyatakan investigatif adalah: pembahasan mengenai beberapa artis yang masing-masing mempunyai benang merah yang sama, misalnya sama-sama belum menikah, atau sama-sama putus nyambung percintaannya, atau sama-sama punya pasangan dari negeri non-Indonesia, atau cinta lokasi yang sama-sama dibawa ke luar lokasi hingga kini.

Naga-naganya, penggunaan istilah investigasi itu membuat gagah pengelolanya dibandingkan pemakaian istilah yang mungkin lebih tepat: indepth atau deep reporting, reportase mendalam yang tak sebatas infomasi selintasan alias high-light. Persis dengan lagak jongos dalam pentas Srimulat yang berlagu gagah bakal menumpas sosok Drakula, padahal Drakula-nya sendiri sudah ada di balik punggung mereka dan sangat siap untuk mengerkah jongos itu—dan kita ketawa cekikikan karena adegan itu.

Jika keberadaan sosok Drakula itu diibaratkan sebagai sebuah kebenaran, pengelola tayangan infotainmen yang mengklaim sebagai tayangan investigasi bisa diibaratkan sebagai jongos dan bedinde yang tak tahu adanya kebenaran yang bahkan sangat tidak jauh dari mereka—hanya lantaran mereka tak menggunakan mata dan hati dan kepekaan mereka, melainkan tengkuk dan pantat mereka. Tetap: kita terbahak ngakak karenanya.

Jangan-jangan, mereka pun tak gapak membedakan istilah dan jabaran investigative reporting dengan interpretative reporting. Ibarat jongos yang tak bisa membedakan bahwa di hadapannya adalah majikan asli yang dianggap sebagai sesama bedinde, atau ibarat bedinde yang gagal membedakan sosok Drakula yang sudah menghunus taringnya dengan sosok pemain wayang orang yang memerankan Buta Cakil, yang taringnya merupakan bagian dari topeng.

Dan perut pun terasa sakit saking kencangnya ditarik oleh syaraf tawa yang memingkal-mingkalkan itu.

Keterpingkal-pingkalan menyaksikan televisi Indonesia bukan sebatas dilantarankan penggunaan terminologi atau istilah yang salah kaprah atau disalahkaprahkan, melainkan juga saat menyaksikan isi tayangannya. Salah satunya: sinetron Cewek Badung (SCTV, Kamis, 9 April 2009, 10.00 wib). Dalam salahsatu adegan digambarkan ada seorang pemuda yang menunggu entah siapa di samping mobilnya yang tanpa kap penutup di pinggir jalan. Demi melihat ada seorang pemudi (ya: si cewek yang dikarakterisasikan badung) dikejar massa, si pemuda berniat menolong pemudi tersebut meloloskan diri dari kejaran massa. Ternyata, cewek itu diuber massa gara-gara kedapatan mencopet. Benar saja, begitu cewek itu turun dan meninggalkan pemuda yang menolongnya, si pemuda—ah, ya: si cowok—baru menyadari kalau dompetnya juga amblas disabet si cewek. Tahu di mana si cowok menaruh dompetnya? Jawabnya: di atas dashboard mobil. Mobil terbuka pula! Tak ada keterangan yang menjelaskan kenapa si cowok menggeletakkan dompetnya di dashboard. Tak ada penjelasan bahwa celananya tak berkantong.

Juga sama tak ada keterangan—apalagi keterangan yang meyakinkan—kenapa ketika di lain waktu si cowok hendak mencegat si cewek, dengan mobil yang sama, kunci mobil dibiarkan tercantel di tempat untuk menyetarter mesin mobil; padahal tak ada niatan si cowok untuk menjebak dan membiarkan si cewek mengembat mobilnya sebagaimana sebelumnya si cewek mengembat dompetnya. Gambaran bahwa perangai si cowok serba sembrono dan ceroboh pun tak digambarkan hingga seluruh jalinan kisah. Yang penting: setelah si cewek mencuri dompet dan mobil si cowok, si cowok pun kemudian tercuri hatinya. Sangat kocak.

Sangat kocak karena para pengelola siaran televisi dan para sineas alias para kreator mata tayangan itu menganggap bahwa benak masyarakat Indonesia masih bloon (kendati pengelola atau kreator itu lulusan sekolah di London) atau maunya serba gampangan dan remeh-temeh (sekalipun alumni sekolah tinggi di Utrecht) atau cara pikirnya masih mandeg, seret, dan mudah mampet (tak peduli menimba ilmu pengetahuan di perguruan tinggi di Massachussetts). Anggapan yang sangat simplistis itulah yang benar-benar menggelikan dalam makna yang sebenar-benarnya tanpa harus bersikap sinis.

IKLAN SUNGGUH SIALAN, TAPI KPI ADALAH KOMISI PEMBIARAN IKLAN
Pembloonan, penjungkirbalikan, pencampuradukan istilah, dan sebangsanya tadi, muaranya hanya satu: mendapat atau masuk dalam hitungan peringkat. Rating! Karena itu, alangkah menggelikan jika kita berharap, bahkan menuntut, agar televisi Indonesia itu mempercerdas bangsa; wong niyat ingsun awal didirikannya perusahaan media penyiaran itu adalah menampung dan menangguk ongkos pemasangan iklan yang angka nominalnya berpangkat miliaran itu. Biaya pemasangan iklan itulah yang menjadi ‘ibadah’ pemproduksian mata tayangan dan perancangan program itu—setelah tayangan iklan yang mewanti-wanti “teliti sebelum membeli” bagi “mana suka siaran niaga” diharamkan dari layar Televisi Republik Indonesia (TVRI), 1 April 1981.

Maknanya, perihal iklan itulah yang menjadi segenap musabab berbagai penyiaran televisi—termasuk yang ada dalam lingkarannya: rumahproduksi, para bintang, penghitung pemeringkatan, perusahaan periklanan, dan seterusnya—menjadi komedik seperti ini. Keberadaan masyarakat tak termasuk dalam kalkulasi, kecuali sekadar sebagai angka untuk diatasnamakan alias diklaim! Dengan demikian, logikanya, pengawasan terhadap langkah dan tingkah lembaga penyiaran itu harus juga senantiasa dikaitkan dengan laku bagaimana mereka menangguk pemasukan pemasangan iklan.

Selama ini, secara konvensional, penayangan iklan disediakan ruangnya sebagai penyelang-nyeling masing-masing acara dan di dalam acara itu sendiri. Undang-undang Penyiaran (persisnya: Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran) menjelaskan persentase iklan berapa, noniklan berapa. Yang tidak dijelaskan adalah bahwa iklan itu bisa nyelonong dengan berbagai cara di luar yang konvensional, di antaranya melalui backdrop, running text, sponshorship, dan lain-lain, termasuk “iklan siluman”.

Boro-boro membahas macam mana yang dianggap “iklan siluman”, bagaimana mengalkulasi backdrop, running text, dan sejenisnya itupun belum pernah saya dengar. Setidaknya, itulah yang saya tahu dari yang (tidak) dikerjakan pengawas resmi tingkah dan langkah lembaga penyiaran, yakni—sebagaimana diamanatkan undang-undang—Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Dalam sepanjang usianya, KPI yang berdiri pada 2004 itu sudah menerbitkan antara lain Peraturan KPI Nomor 02 Tahun 2007 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Peraturan KPI Nomor 03 Tahun 2007 tentang Standar Program Siaran—diringkas menjadi Pedoman Perilaku Penyiaran/Standar Program Siaran (P3/SPS)—yang setahu saya juga tidak menyentuh persoalan pengomposisian iklan itu.

Ideologi undang-undang perihal pembagian persentase siaran iklan dan siaran noniklan, jelas, dimaksudkan agar lembaga penyiaran televisi tidak semata menjadi corong atau humas pemasang iklan. Yang lebih penting adalah: lantaran siaran televisi mempergunakan frekuensi di udara sementara frekuensi itu dijatah atau dikapling hanya untuk sejumlah lembaga penyiaran—tak semelimpah penerbitan media cetak yang distribusinya tanpa pembatasan—pengaturan persentase dan pengomposisian siaran iklan dimaksudkan untuk melindungi publik atas haknya agar informasi yang lebih banyak diterima tidak didominasi siaran iklan yang sudah dipastikan isinya adalah kecap nomor wahid.

Sekadar contoh, dalam siaran Dahsyat (RCTI, Kamis, 9 April 2009: 09.00), usai Olga Syahputra menyanyi, artis Luna Maya yang menjadi pembawa acara kemudian mengomentari bahwa suara Olga memang ekspresif, namun “tidak seekspresif XL Expressive untuk SMS”. XL adalah nama operator telepon seluler. Jelas, celetukan Luna Maya adalah iklan.

Sama dan sebangun dengan siaran Insert (Trans TV, Jumat, 10 April 2009: 11.00), yang membahas pemilihan calon anggota legislatif, pasangan artis, dan lainnya yang semuanya terhitung aktual; lantas menjelang akhir tayangan ada ‘berita’ yang terasa timeless, tak terikat waktu, mengenai bintang Teuku Wisnu yang begitu sibuk ke sana kemari, yang termungkinkan kejang otot; untuk itu, Teuku Wisnu mengatasinya dengan senantiasa membawa Cream Analgesic Stop X. Jelas, pola pemberitaan yang biasa disebut advertorial ini adalah iklan. Iklan yang dikesankan sebagai berita.

Kamis, 20 Mei 2009: 10.00, Trans TV menggelar tayangan Ceriwis. Menjelang akhir acara, mendadak presenter Vanda mengeluhkan perutnya yang melilit. Plotnya adalah: Vanda butuh obat sakit perut. Rubens, sesama presenter, mengeluarkan produk obat dimaksud: Polysilane. Entah, berapa menit dibutuhkan untuk adegan ini. Ditambah dengan iklan resmi konvensional, ditambah dengan running text atau teks berjalan, benar-benar tak menerabas batas persentase iklankah tayangan ‘propaganda’ itu?

Kata seorang pengelola pemasok tayangan infotainmen, pada hari-hari ini (dalam obrolan Mei 2009), hampir semua tayangan infotainmen menyiarkan ‘berita tapi iklan’ itu. Lucu, jika penonton tak menganggap itu sebagai iklan. Lebih lucu lagi jika pengelola siaran begitu yakin bahwa penonton akan menganggap tayangan itu bukan sebagai iklan. Dengan meminjam emoticon (yang tak bisa saya pindahkan dalam teks ini), visualisasinya tak sebatas gambar mulut senyum, atau gambar mulut tertawa hingga seluruh gigi kelihatan, melainkan gambar kepala yang kerowak bagian mulut saking terbahaknya itu ketawa ditambah seluruh badan bergulung-guling di lantai lantaran gagal menahan gelitikan syaraf geli.

Sama persis dengan tayangan Wisata Kuliner, yang menghadirkan Bondan Winarno: dia keluarkan dari saku bajunya selembar kemasan tablet untuk perut bermasalah. Bandingkan dengan iklan keju yang berkisah tentang anak-anak yang bosan pada makanan dengan salah satu bahannya keju, yang kemudian menghadirkan Bara Pattiradjawane seolah sebagai penyelamat kebuntuan rasa bosan anak-anak itu. Bara kemudian menawarkan resep makanan tertentu yang melibatkan keju dengan merk tertentu.

Jadi, apa bedanya Bara dengan Bondan? Bara jelas-jelas muncul dalam konstelasi iklan, sementara Bondan terkesan malu-malu beriklan—yang dalam kancah TVRI dulu disebut sebagai “iklan siluman”: ditengarai iklan tapi tak dianggap sebagai iklan lantaran TVRI haram beriklan; dianggap bukan iklan, padahal iklan; dianggap bukan iklan, karena tak ada pemasukan ke kas resmi TVRI, namun ada ongkos yang harus dibayarkan pada kreator yang butuh tambahan uang saku, sehingga tak dibutuhkan akuntabilitas.

Sekadar perbandingan dalam siaran media elektronika lainnya, yakni radio, dalam siaran Radio Gen FM, Jakarta (6 April 2009: 06.00), karena masih terasa suasana duka sehabis waduk Situgintung, Tangerang Selatan, ambrol dan menelan banyak jiwa, penyiar Ade bicara perihal tragedi itu, kira-kira: “Ada airmata untuk bencana Situgintung. Aimata…. Bicara airmata, sangat dekat dengan tisyu merk Tessa.”

Dalam hal iklan inkonvensional ini, terusterang, saya tak paham di mana posisi KPI: masih terus sibuk berebut kewenangan melawan Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pemberian izin siaran, atau semata berkutat memelototi pelawak Tessy Kabul berkain bak perempuan yang menggandul-gandulkan balon tiup sebagai representasi sepasang payudaranya yang melesat dan meleset ke sana kemari, ditambah memasang tajam pendengaran bagi celetukan Tukul Arwana mengarah pada kekonyolan atau yang serempat-serempet pada sensualitas para tamunya yang ayu, jelita, dan seksi? Tak ada yang salah dengan pengawasan KPI atas isi mata tayangan, yang bisa terpastikan memunculkan debat, diskusi, dan kontroversi; namun abai pada berbagai bentuk iklan yang sesungguhnya jauh lebih mudah dirumuskan, saya kerap terpeleset memanjangkan KPI sebagai Komisi Pembiaran Iklan.

Mendengar jawaban bahwa KPI sangat kekurangan tenaga—sebagaimana selama ini mereka nyatakan untuk menjawab orang-orang yang mempertanyakan: kenapa yang ini diperingatkan, kenapa yang itu tidak padahal lebih dari yang diperingatkan—sunggguh-sungguh asli bikin syaraf geli terkili-kili.


HUMOR SEJATI ITU TUMOR

Jadi, jangan mencari tayangan khusus humor di televisi jika berniat terbahak. Dari mulai siaran hingga akhir siaran, semuanya merupakan ladang tak pernah kerontang tumbuhan yang memicu kita tertawa bahkan hingga tergugu-gugu.

Bagaimana dengan mata acara yang by design di-niyat ingsun-kan sebagai humor? Hmmm…, tahu tumor kan? Menahan diri untuk tidak ketawa padahal syaraf ketawa sudah tergelitik jauh lebih bagus ketimbang harus ketawa saat melihat sesuatu yang sama sekali sangat tidak lucu, atau gagal menjadi lucu. Syahdan, itu bisa menimbulkan penyakit tumor. Bagaimana bisa? Itu ada dalam tulisan lain. Maaf.


Jakarta, Juli 2009

Source: karbonjournal