Recent twitter entries...

  •  

Non Profit BUKAN No Profit

Posted by artikelir | Posted in Sosial | Posted on 29-07-2010

0

Oleh: Roni Oktafian

board

Dulu, banyak orang memandang heran ketika mendengar jawaban, “Saya bekerja di organisasi nonprofit” atas pertanyaan, “Apa kerjaanmu?” Ada prasangka, banyak anggapan bahwa organisasi nonprofit tidak layak dijadikan jawaban atas pertanyaan semacam itu? Mengapa organisasi nonprofit berada pada wilayah yang berbeda dengan status pekerjaan lainnya?

Organisasi pada dasarnya adalah aksi melakukan sesuatu yang dilakukan oleh sekumpulan orang yang berkumpul dengan aktifitas dan tujuan tertentu, umumnya terdapat sistem struktur kerja yang saling terhubung antara kelompok satu dan yang lainnya. Anda bisa sebut itu sebagai perusahaan, ormas, partai politik atau bahkan karang taruna, itu semua adalah bentuk-bentuk organisasi. Jadi perusahaan pun adalah bentuk lain dari organisasi.

Perusahaan (organisasi) nonprofit adalah organisasi yang tidak mencari laba atau profit. Lalu bagaimana ia menghidupi kegiatan berorganisasinya? Di titik inilah yang kurang dipahami oleh sebagian besar orang. Tidak mencari profit bukan berarti anda tidak boleh mendapatkan profit. Organisasi nonprofit sedikit berbeda dengan lembaga zakat (atau semacamnya) dimana penggalangan dana dilakukan searah yaitu dari donasi para donaturnya saja dan dana itu kemudian diserahkan kepada kelompok orang yang ‘membutuhkan’.

Pola organisasi nonprofit hampir sama dengan pola organisasi perusahaan (corporate) pada umumnya. Organisasinya terstruktur dengan komisaris dan direktur komplit dengan para karyawannya. Namun visi para ‘pekerja’ telah dibekali dengan kecukupan wawasan bahwa semua aktifitas yang mereka lakukan tidak dalam rangka memperkaya diri sendiri. Layaknya perusahaan, aktifitas organisasi nonprofit juga fokus pada isu dan program misi tertentu.

Yang dimaksud dengan profit secara umum adalah margin yang diperoleh dari penjualan (produk atau jasa) dikurangi biaya produksi yang didalamnya termasuk biaya operasional (gaji, perawatan dan amortisasi, dll). Selisih atau margin itulah yang kemudian dikumpulkan pada setiap periodenya (biasanya per bulan) dan kemudian diakumulasikan pada laporan keuangan akhir tahun, kemudian munculah nilai nominal yang disebut profit. Profit perusahaan dibagikan secara proporsional kepada stake holder (komisaris) perusahaan. Direktur, staff dan bawahannya tidak menerima profit perusahaan. Mereka dibayar berdasarkan kesepakatan, bisa berupa gaji atau upah. Pola ini berlaku secara umum, penjelasan lebih detail anda bisa mencari di buku pegangan manajemen perusahaan. Jangan tanya detail ini ke saya.

Dengan pengertian seperti ini, maka organisasi nonprofit berbeda pada mekanisme pembagian laba/profit di akhir tahun. Sebagai perwujudan komitmen nonprofit, maka profit yang diperoleh harus dikembalikan sepenuhnya kepada misi aktifitas organisasi. Profit dikonversi sebagai input untuk meningkatkan misi-misi pada tahun berikutnya. Tidak ada sistem ‘pembagian deviden’ dalam perusahaan nonprofit.

Lalu darimana organisasi nonprofit mendapatkan pemasukkan untuk membiayai aktifitasnya? Disinilah peran Direktur sebagai sosok yang mampu memberikan keseimbangan. Seorang pemimpin organisasi.perusahaan nonprofit, haruslah mempunyai kemampuan entrepreneurship, bukan hanya business entrepreneursemata, tapi Social Entrepreneur.

Social Entrepreneur?

Entrepreneurship identik dengan inovasi dan progresifitas. Dalam dunia bisnis, mereka layaknya mesin pertumbuhan perusahaan, mereka musti peka terhadap peluang (opportunity), merekalah yang menyiapkan ‘bahan bakar’ untuk mendorong perusahaan ketingkat yang lebih tinggi. Entrepreneur mencari added value dengan menciptakan pasar-pasar baru. Hampir sama dengan Social Entrepreneur. Social Entrepreneur mengarah pada transformasi social value yang bermanfaat bagi komunitasnya dan masyarakat pada skala besarnya.


greaterPersoalan sosial yang terjadi, saat ini telah menjadi begitu kompleks, diperlukan individu yang tidak saja visioner, juga ‘tahan banting’ dalam mewujudkan misi organisasinya. Social Entrepreneur berani untuk mendedikasikan hidupnya untuk arah perubahan komunitasnya. Visioner sekaligus realistis, mampu mengimplementasikan secara praktis visi-visi besarnya, adalah juga karakter yang dibutuhkan seorang Social Entrepreneur. Ia mampu menginspirasi, di sisi lain juga mampu membuat sistem kerja yang aplikatif dan memudahkan (user friendly), dipahami oleh banyak orang, etis, adaptif dan mampu memaksimalkan partisipasi (partisipatoris) bagi orang-orang disekitarnya.

Satu contoh, sebuah komunitas seniman grafis yang memproduksi majalah dengan pendekatan industri dengan konten-konten yang menyoroti isu sosial lingkungan. Dengan hasil penjualan majalah tersebut, mampu membiayai banyak aktifitas sosial lainnya. Juga satu televisi lokal di Jakarta yang mampu membiayai produksinya dengan aktifitas ekonomi pengolahan sampah. Banyak contoh dalam mewujudkan hal ini, faktor kuncinya adalah jiwa Social Entrepreneur segenap individu-individu yang ada pada kelompok tersebut, tumbuh bersama dan terus berinovasi.

Pada lain tulisan, akan penulis sampaikan beberapa detail pola dari organisasi nonprofit yang dalam banyak hal juga melakukan pendekatan corporate. Dan pada banyak hal, mereka telah sampai pada jalur yang tepat. GOOD adalah satu contoh organisasi nonprofit, yang awalnya hanya sekumpulan seniman design graphic, yang saat ini sudah tumbuh menjadi perusahaan besar.

Sangat disayangkan, banyak organisasi nonprofit saat ini, cukup mengandalkan donasi. Benar, donasi juga satu dari beberapa alternatif pendanaan, seperti layaknya perusahaan, donasi layaknya penyertaan modal kerja, bukan sedekah. Ketidak mandirian dalam pengelolaan ekonomi organisasi, banyak mengakibatkan organisasi nonprofit mati suri atau menua, tidak adaptif pada perubahan sosial yang ada. Perlu adanya penyegaran konsep berorganisasi yang sederhana namun efektif.

Disayangkan juga, bahwa banyak organisasi nonprofit justru digunakan oleh kepentingan tertentu sebagai sayap-sayap organisasi politik dalam hal penggalangan dana untuk akhirnya menjadi tujuan praktis non sosial. Sehingga akhirnya pelaku-pelaku didalamnya belum mencapai ke jiwa social entrepreneurship yang kreatif inovatif namun hanya menjadi social worker, yaitu buruh/worker (orang yang diberi upah atau gaji) untuk melakukan pekerjaan sosial. Social worker berbeda denganvolunteer. Volunteer atau tenaga sukarela adalah seseorang yang melakukakan sesuatu, bisa aktifitas sosial atau yang lain, tanpa (mengharapkan) bayaran.

Konsep Social Entrepreneur bukan hal yang baru pada masyarakat Indonesia. Koperasi (cooperation) adalah bentuk lain dari Social Entrepreneur, telah tumbuh dan mengakar pada budaya kita. Pasti ada perdebatan mengenai ini, namun cikalnya tetap sama.

Prinsip utama organisasi nonprofit adalah layaknya perusahaan yaitu transparansi, mempunyai tata kelola yang baik dan setiap ‘pekerja’nya mempunyai dedikasi dan komitmen yang tinggi atas misi dan nilai-nilai sosial.

Semua itu tidak tumbuh dengan sendirinya, aktivis sosial tidak bisa lagi berkutat dengan visi-visi besarnya saja, mustilah diikuti dengan melakukan pengorganisasian pada pendekatan corporate yang profitable. Ini akan menghasilkan sesuatu yang nantinya tidak saja bermanfaat bagi komunitasnya, berperan sebagai agen perubahan sosial, namun yang lebih penting adalah mampu menjawab pertanyaan pada awal tulisan ini dengan jawaban bersahaja, “Saya bekerja pada perusahaan nonprofit” (ron)

*untuk persaudaraanku pada 10 tahun komunitas kenduri cinta (organisasi nonprofit yang tumbuh organik di semak belukar belantara ibukota Jakarta)

Para perampok di Jalan Tuhan

Posted by artikelir | Posted in Filsafat, Tasawwuf | Posted on 15-02-2010

0

Oleh: Jalaluddin Rakhmat

Sects and Errors are synonymous. If you are a peripatetic and I am a Platonist, then we are both wrong, for you combat Plato only because his illusions offend you, and I dislike Aristotle only because it seems to me that he doesn’t know what he’s talking about.

Voltaire, Philosophical Dictionary
“Aku tidak bisa melepaskan diri dari bayangan guruku. Ia masuk dalam mimpi-mimpiku. Pada suatu malam aku pernah terbangun. Aku duduk dalam lingkaran. Di situ ada guruku, Nabi Muhammad, Tuhan, dan Yesus. Guruku menyebutku Hafshah, salah seorang istri Nabi Muhammad. Aku pernah melihat Nabi Muhammad datang kepadaku; memanggilku dengan mesra. Pendeknya, kemudian terjadilah pergaulan suami-istri antara Hafshah dan Nabi Muhammad. Beberapa saat setelah itu, aku baru sadar bahwa Hafshah itu aku dan Nabi Muhammad itu adalah guruku itu,” Helen, bukan nama sebenarnya, mengadukan nasibnya kepadaku.

Helen sarjana dan profesional. Ia cerdas dan kaya. Ketika ia mulai tertarik pada hal-hal spiritual, kawannya membawanya ke pengajian tasawuf. Ia diperkenalkan kepada seorang ustad. Bukan ustad terkenal. Tampaknya ustad itu tidak mengisi pengajian umum. Ia memusatkan pengajarannya pada komunitas khusus dengan tema khusus. Di seluruh alam semesta, hanya dia yang mempunyai pengetahuan khusus, ilmu makrifat. Ia mau berbagi ilmu makrifat itu hanya kepada manusia-manusia pilihan yang ingin berjumpa dengan Tuhan. Dengan mengamalkan ritus-ritus tertentu—berzikir, berpuasa, dan bersemadi—Helen berhasil melihat Tuhan. Berkali-kali sesudah itu, ia mengalami ”trans”. Ia bukan hanya berjumpa dengan Tuhan. Ia juga dapat berkencan dengan para nabi.

Makin ”dalam” pengalaman rohaniahnya, makin bergantung dia kepada sang ustad. Helen yang cerdas kehilangan daya kritisnya ketika ia mendengar kalimat-kalimat gurunya. Ia berikan apa pun yang dimintanya, mulai waktu, uang, kendaraan, rumah, sampai kehormatannya. Ia sudah menjadi sujet di hadapan juru hipnotis. Semua dilakukannya di bawah sadar, sampai ia disentakkan oleh salah satu kuliah psikologi. Sebuah buku dengan judul Saints and Madmen menyadarkan dia bahwa gurunya dan juga dia bukan orang suci, tapi orang gila. Ia bukan mengalami pengalaman rohaniah, tapi gangguan mental. Sayangnya, kesadaran itu muncul setelah ia kehilangan banyak.

Tak terhitung banyak orang seperti Helen. Manusia modern yang jenuh dengan materialisme gersang. Ia merindukan pengalaman rohaniah. Ada yang kosong dalam jiwanya. Kekosongan itu tidak bisa diisi dengan seks, hiburan, kerja, bahkan ajaran-ajaran agama yang dianut oleh kebanyakan masyarakat. Ia ingin getting connected dengan Yang Ilahi. Ia sudah kecapaian dengan logika dan angka. Ia ingin meninggalkan dunia yang dingin dan kusam menuju alam yang hangat dan cemerlang. Ia ingin mendapat—sebut saja—pencerahan rohaniah. Ia tidak mendapatkannya dalam institusi-institusi agama.

Dalam kerinduan spiritual itu, muncullah guru. Ia menawarkan pengalaman rohaniah yang ”instan”. Kalau kamu sudah kecapaian dengan logika dan angka, masuklah bersama guru ke dalam dunia rasa dan percaya. Bunuh rasionalitas dan tumbuhkan spiritualitas (seakan-akan keduanya bertentangan). Dengan memanipulasi ajaran-ajaran esoterik dalam setiap agama, guru menegaskan—sambil mengutip Rumi—”di negeri cinta, akal digantung”.

Kalau akal sudah digantung, terbukalah peluang bagi guru untuk memanipulasi pikiran para pengikutnya. Aku menemukan bahwa teknik-teknik menggantung akal yang dilakukan para guru itu sepenuhnya melaksanakan nasihat Dostoyevsky dalam The Brother of Karamazov: ”Ada tiga kekuatan, dan hanya tiga, yang dapat menaklukkan dan melumpuhkan semangat para pemberontak ini. Yang tiga itu ialah mukjizat, misteri, dan otoritas.” Tentu saja hampir tidak ada di antara para guru itu yang membaca Dostoyevsky.

Mukjizat sebenarnya adalah kumpulan dari halusinasi, ilusi, dan delusi. Guru menciptakannya dengan ”merusak” otak pengikutnya melalui ritual yang aneh-aneh. Salah satu teknik yang paling populer dan paling efektif adalah pengurangan waktu tidur (sleep deprivation), apalagi bila dibarengi dengan tidak makan (food deprivation). Dalam keadaan normal, otak kita mensintesiskan ”pil tidur alamiah” sepanjang waktu bangun kita. Sesuai dengan ritme biologis, kita tidur pada waktu malam. Karena deprivasi tidur, pil tidur alamiah itu berakumulasi dan bermetabolasi menjadi produk-produk beracun. Lalu timbullah mula-mula gangguan mood—pergantian antara euforia dan depresi. Menyusul gangguan mata yang menimbulkan halusinasi (melihat cahaya dan benda-benda bergerak), delusi, dan puncaknya disorganisasi pikiran (sederhananya, gangguan jiwa). Seperti pengurangan tidur, guru juga menciptakan pengalaman rohaniah dengan upacara, seperti latihan masuk kubur, gerakan kolektif yang berulang-ulang, atau penggunaan obat-obat kimiawi. Murid mengira mereka mengalami pengalaman gaib. Ahli neurologi menyebutnya kerusakan otak (brain damage).

Karena pengalaman rohaniah yang mereka alami, mereka merasa dibawa ke alam gaib. Di sekitar kehidupan guru berkumpul berbagai misteri. Guru pemilik ilmu-ilmu yang sangat rahasia. Guru malah mengembangkan bahasa sendiri. Istilah-istilah agama diberi makna baru. Perjalanan bersama guru adalah perjalanan menyingkap tirai-tirai kegaiban. Murid tidak bisa menyingkap rahasia itu tanpa bimbingan guru. Seperti kata Dostoyevsky, dengan menggabungkan mukjizat, misteri, dan otoritas, bertekuklah jiwa-jiwa kritis ke kaki sang Pembawa Pencerahan.

Helen sekarang sadar bahwa ia telah jatuh kepada perampok di jalan Tuhan. Hati-hati, dalam perjalanan menuju pencerahan jiwa, Anda akan disabot oleh apa yang disebut Jean Marie-Abgrall sebagai Soul-Snatchers, para pencuri jiwa. Helen masih berjuang menyembuhkan luka-luka jiwanya; sebenarnya kerusakan dalam otaknya. Aku menganjurkan dia untuk berobat ke psikiater. Ia menolaknya.

Lama aku kehilangan Helen. Secara kebetulan, aku menemuinya dalam satu acara. Aku menanyakan mengapa ia tidak lagi mengontak aku. Ia menarik aku ke tempat sepi. Dengan muka yang penuh ketakutan, ia berbisik: gurunya sudah tahu bahwa ia telah melaporkan keadaannya kepadaku. Ia mendapat ancaman. Ia diperingatkan agar memutuskan semua hubungan dengan masyarakat di luar komunitasnya.

Bersamaan dengan hilangnya Helen, Juliet Howell, peneliti sufisme urban, muncul lagi di hadapanku. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ia mewawancaraiku perihal tasawuf di masyarakat kota. Waktu itu aku menyelenggarakan kelas-kelas tasawuf di daerah elite. Kali ini ia bertanya tentang pengalamanku membina tasawuf. Ia juga bertanya tentang yayasan kajian tasawuf yang aku kelola. Aku bilang aku sudah tidak lagi berurusan dengan tasawuf. Ia bertanya tentang muridku yang paling ”sufi”. Aku jawab, ”Ia sudah mencapai makrifat setelah belajar dikuburkan hidup-hidup.” Howell mendesak bagaimana caranya membedakan gerakan tasawuf yang benar dengan gerakan para perampok di jalan Tuhan. ”Gunakanlah ukuran UUD dan UUS,” jawabku, ”apabila Anda menemukan gerakan itu ujung-ujungnya duit atau ujung-ujungnya seks, Anda sudah disimpangkan dari jalan Tuhan. Ada dua juga yang membedakan saints dengan madmen: bila setelah mendapat pengalaman rohaniah, Anda merasa diri Anda rendah dan bergairah untuk menyebarkan kasih ke seluruh alam, Anda adalah orang suci. Bila Anda merasakan diri Anda lebih saleh daripada semua orang dan Anda hanya bergairah untuk mengasihi guru Anda, Anda adalah orang gila. Anda sudah masuk perangkap Soul-Snatchers. Gitu aja, kok repot!”


Jalaluddin Rakhmat
Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia
Sumber: tempointeraktif

Pentas Teater Koma : LIKU-LIKU JENDERAL SIE JIN KWIE

Posted by artikelir | Posted in Kritika, Sastra | Posted on 06-02-2010

0

Uki Bayu Sejati

Keinginan baik seseorang tidak serta merta ditanggapi secara baik oleh orang lain. Boleh jadi kata bijak ini tak perlu dibuktikan karena hampir semua kita pernah mengalaminya. Bayangkan, ketika negara sedang diliputi kecemasan oleh bakal datangnya musuh menyerbu datanglah seorang anak muda berkeinginan untuk mengabdi membela negaranya secara tulus, siapa nyana ternyata ditolak oleh jenderal yang melakukan rekruitment – padahal orang lain yang kemampuannya biasa2 saja bisa diterima dan diberi pangkat. Apa pasal? Ternyata, hanya karena orang muda ini bernama Sie Jin Kwie.

Disadur dari naskah karya penulis Tiongkok pada zaman Dinasti Yuan bernama Tiokengjian, abad 14, lantas diedit pada zaman dinasti Ming oleh Lokoanchung. Kisah Sie Jin Jwie pertama kali diterbitkan di Indonesia tahun 1894, dijadikan komik tahun 1953 dan dimuat bersambung di majalah Star Weekly. N. Riantiarno, yang menyutradarai pentas produksi Teater Koma ke 119, ini melakukan penjelajahan literatur sebelum menyadur. “Ada 12 versi Siejinkwie yang saya baca. Antara lain, Matjapat Siedjinkoei (berarti sudah digubah dalam bahasa Jawa. pen) dan komik karya Oerip “Pahlawan Berbadju Poetih,”ungkapnya menjelaskan semangat, juga kerja kerasnya menyunting naskah, yang awalnya diperkirakan berdurasi 7-8 jam menjadi sekitar 4 jam. Masih ada dua naskah Sie Jin Kwie yang nantinya akan dipentaskan juga.

Perjalanan nasib memang tidak lurus-lurus saja. Banyak liku-likunya. Apalagi bagi anak muda yang datang dari desa, sekalipun menguasai ilmu silat dan memiliki tenaga luar biasa. Jadi tentara – yang tampak luar: gagah dan berani – menjadi cita-cita sebagian anak-anak kita. Apalagi jika sudah mengenakan uniform, beserta asesoris: pangkat, tanda jasa, baret, dan senjata api. Supaya bisa jadi tentara harus lulus test fisik, psikologi dan pengetahuan umum. Yang lulusan SMP bakal digembleng jadi prajurit-tantama-bintara, yang lulusan SMA dilatih jadi perwira. Nah, ketika proses pendaftaran itulah, ternyata ada saja oknum entah makelar, entah orang dalam, yang meng-objek-kan formulir sampai kesanggupan untuk meluluskan – dengan imbalan uang. Nyaris sama seperti dialami Sie Jin Kwie, meski pada akhirnya diterima setelah bersiasat.

Multi Plot

Proses yang harus dijalani untuk menjadi jenderal boleh jadi berliku. Intrik, saling sikut dan menjatuhkan, utamanya di level petinggi negara, sebenarnya dapat dinyatakan sebagai isyarat lemahnya pertahanan negara. Dinasti Tang yang kala itu kaisarnya bernama Lisibin boleh jadi tak tahu bahwa di antara pembantu-pembantu utama, sebutlah : lingkaran inti alias ring 1, saling berebut pengaruh. Yang menonjol Litocong vs Thiosukwie. Tujuannya jelas siapa paling dekat bakal dapat jabatan prestisius: Panglima Perang. Sebab, pihak musuh dpp.Jenderal Kaesobun sudah mengirim ultimatum untuk menyerang.

Sementara, di awal adegan, Lisibin resah gelisah oleh mimpinya sendiri bahwa ia diselamatkan dari marabahaya oleh seorang pemuda berbaju putih bernama Sie Jin Kwie. Penasarannya bertambah setelah dapat info bahwa sosok pemuda itu ada di desa Pintu Naga, yang termasuk wilayah kekaisarannya. Mimpi dalam khasanah budaya Tiongkok memang memiliki pengaruh dalam hidup dan berkehidupan masyarakat. Tafsir terhadap mimpi sama kuatnya dengan, misalnya, analisa fengshui, shio, dan semacamnya.

Alih-alih membantu Kaisar untuk menemukan pemuda itu, Litocong yang merasa disepelekan – dihinakan, merancang gerakan anti kaisar didukung istri, anak dan saudara-saudaranya.

Sementara itu Sie Jin Kwie yang bekerja di rumah keluarga Liu sebagai pemelihara kuda tertimpa musibah gara-gara anak gadis induk semangnya, Liu Kim Hwa, menyelimuti dirinya dengan jubah. Jika dalam tayuban, cokek, gandrung para penonton yang ketiban sampur penari justru merasa beruntung, eh..jubah itu justru menjadikan Sie Jin Kwei bakal dilabrak habis – lantaran diduga berbuat tidak senonoh. Si gadis pun takut kemarahan Ayahnya, maka atas persetujuan ibunya ia melarikan diri ditemani inang pengasuh. Di suatu kuil Sie Jin Kwie dan Liu Kim Hwa bertemu, kemudian mereka menikah.

Di plot berikutnya, karena negara bersiap untuk perang, Sie Jin Kwei memantapkan niat untuk masuk menjadi tentara. Betapa kaget Thiosukwie – panglima perang – saat pemuda dari desa ini menyebutkan namanya. Nama yang dicari oleh Kaisar, yang bukan mustahil bakal menjadi orang kepercayaan. Maka dengan berbagai dalih Sie Jin Kwie ditolak, bahkan diancam hukuman penggal jika berani datang di lingkungan ketentaraan. Namun dengan siasat ganti nama akhirnya Sie Jin Kwie berhasil jadi tentara, bahkan karena dedikasinya ia mampu meraih pangkat Jenderal. Jaman doeloe memang kenaikan pangkat seperti roket memang bisa terjadi, jangan harap di jaman sekarang. Berkarier sebagai prajurit dengan penuh dedikasi. Namun, cobaan masih datang, ia difitnah yang menjadikannya harus bersiasat lagi: menjadi koki di dapur tentara namun tetap memimpin anak buahnya, yang disebut: Pasukan Dapur Tang.

Lakon Tiongkok klasik umumnya memang menggunakan multi plotbooklet tercatat tak kurang dari 42 pemain, beberapa di antaranya memainkan peran ganda alias double casting . Nano selaku sutradara dan Ohan Adiputra co-sutradara, tentu mengeluarkan energi ekstra untuk memilih siapa berperan sebagai apa, yang pas dan cocok – lantas mengupayakan memperkenalkan nama dan karakter tokoh-tokoh di pentas, sedemikian rupa – agar penonton mafhum. Karenanya – apa boleh buat – perbedaan antara satu dengan lain peran tentu harus detil, olah vokal maupun gerak lakunya. Budaya Tiongkok identik dengan silat. Elly Luthan dan Ratna Ully memilih dan menstilisasi “jurus” serta melatih pemain – baik perorangan maupun kelompok – agar tubuhnya luwes. Karena teater masa kini berdasarkan naskah – bukan spontanitas seperti teater tradisi, yang akrab dengan budaya lisan – maka pemain kudu menghafal dialog. Olah tubuh, olah vokal, olah pikir, olah rasa, dan lain-lain, umumnya dilatih sekitar 3 bulan.

Pertunjukan yng berkualitas memang membutuhkan energi yang tak sembarangan. Karenanya penting diupayakan pengelolaan stamina pemain dan staf panggung mengingat durasi lakon maupun lamanya pementasan. Rata-rata pentas Teater Koma setiap malam selama 2 minggu, juga ada yang sebulan. Asupan untuk jaga kesehatan yang diberikan kepada pemain usia muda: Rangga, pemeran Sie Jin Kwie, tentu berbeda dibandingkan pemain usia tua: Priyo S. Winardi, pemeran Lisibin, misalnya.

Teater tersaji berkat kerjasama kelompok, ibarat orkestra dengan berbagai alat musik dan ataupun ensemble koor yang harmonisasi bunyi/suaranya mesti prima. Dalam hal ini hubungan antar pemain kudu saling berbagi, saling menguatkan, di dalam maupun luar panggung.

Kritik & Bumbu
33 tahun berteater bukan hal biasa di negara yang pejabat-pejabatnya belum menjadikan kesenian sebagai penyeimbang kehidupan. Di Indonesia politik dan ekonomi menjadi panglima kehidupan bermasyarakat – itupun dilaksanakan dengan syahwat kekuasaan untuk pribadi dan golongan bukan untuk berbagi meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Maka itu ketika di suatu event ada pejabat yang menyatakan,”Kesenian itu bisa dirasakan kegunaannya jika masyarakatnya sudah sejahtera, seperti di Eropa, Amerika…,” siapa yang tidak berang mendengar ucapan seperti itu. Dia samasekali tidak menganggap ratusan ribu seniman, puluhan ribu kelompok kesenian yang terus menggeliat di berbagai wilayah di Nusantara – yang secara umum dapat menghibur penduduk, menetralisasikan kemelut hidup. Dampak dari akal bulus politikus dan konglomerat hitam yang mempertontonkan pelanggaran etika bahkan menginjak-injak rasa keadilan, sebenarnya sudah membuat rakyat muak, frustrasi, maka demo-demo jalanan menjadi saluran ekspresinya. Untunglah ada kesenian yang sedikit banyak meredam gejolak. Kok, seenaknya pejabat bilang begitu. Sontak saya tanggapi, ”Kesejahteraan? Justru itu tugas sampeyan. Selama ini apa yang sudah sampeyan kerjakan buat rakyat?!” – artinya dalam satu bingkai cerita terdapat beberapa persoalan, yang pada perkembangannya satu dan lain persoalan saling berkaitan. Dan ini berarti banyak peran. Dari

Memang, ada kritik menyesatkan ada kritik menyehatkan. Teater Koma, yang sering dinyatakan, bahkan oleh para pendirinya, sebagai ”perkawinan Teater Ketjil dengan Teater Populer,” di hampir seluruh lakon garapannya seperti ingin menyuarakan protes keras atas situasi kondisi negara, melalui kritik-kritik – yang dikemas dalam bentuk ”opera” lengkap dengan bumbu nyanyi-tari-humor dan warna-warni kemeriahan panggung. Buktinya, sempat mengalami 4 kali pencekalan : tahun 1978, 1989, 1990, juga interogasi pihak berwajib maupun ancaman bom.

Justru karena menabalkan nama : k o m a – yang terus berproses sampai entah kapan menjadi titik –kelompok teater ini mampu kiprah. Semangat kebersamaan menjadikan Teater Koma keluarga besar kesenian yang mampu membangun jaringan dengan berbagai elemen masyarakat. Tidak hanya ketika mencari, memperoleh dan mengolah-sadur naskah Sie Jin Kwei saja Nano melakukan penjelajahan dan pendalaman data/informasi, melainkan hampir di semua naskah lakon yang ditulis dan disutradarainya, juga dalam kerjasama dengan pendukung-pendukung artistiknya.

Lihatlah tingkat kesulitan tinggi dalam penggarapan lakon Sie Jin Kwei. Perhatikan detil ornamen dan motif busana nyaris serumit tata rias setiap peran. Sekitar 250 potong pakaian untuk 40-an pemeran, belum lagi untuk pemain musik dan pengurus artistik. Ciri budaya Cina dibaurkan dengan Jawa. Pasangan suami-istri Rima Amanda dan Subarkah dan stafnya bekerja keras untuk mengurai dan mengatasi kerumitan, demikian juga peran Sena Sukarya dan stafnya merias wajah para pemain. Jika seorang pemain untuk mengenakan busana dan dirias butuh 7 menit saja, maka untuk 40-an pemain perlu waktu 280 menit alias 4 jam. Bayangkan kesibukan mereka di belakang layar. Behind the scene memang penting diinformasikan kepada khalayak ramai – terutama pejabat – bahwa kesenian bukan hal yang remeh-temeh melainkan sesuatu yang wajib digeluti secara istimewa.

Cepat & Tepat

Begitu pun ihwal penataan panggung. Hemat saya melalui pembauran unsur-unsur dari Opera Cina, Golek Menak, Potehi, Wayang Kulit Cina-Jawa, Wayang Wong dan Wayang Tavip banyak sisi yang ingin diraih Nano – sebagai jenderal merancang strategi, didampingi Syaeful Anwar selaku penasehat artistik – bukan hanya menciptakan atmosfir Tiongkok beserta akulturisasinya dengan budaya Nusantara masa lalu, namun juga mencoba reminding – mengingatkan kepada kita bahwa ragam pertunjukan teater tempo doeloe begitu unik, dan mencerminkan kreativitas seniman yang bergaul dengan tradisi budaya masyarakatnya. Upaya mendukungnya tak bisa manis dibibir, peduli kesenian lokal dan seniman yang menghidupinya adalah bagian dari strategi menjalani globalisasi.

Pembauran budaya ibarat masa pacaran muda-mudi. Proses saling menjajagi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi belum kawin, belum dipadukan. Bukan hal yang mudah karena setiap unsur memiliki ciri khas. Pembangunan set dekor beserta properti pendukung benar-benar memperhitungkan tidak hanya besar dan luasnya panggung melainkan juga segi teknis masuk dan keluar sesuai pergantian adegan. Skenografer Onny Suryono dan pengarah tehnik Tinton Prianggoro bekerjasama untuk menterjemahkan naskah dan arahan sutradara agar set ikut mendukung pengadeganan. Adegan Kaisar berbincang dengan stafnya berlatar belakang dinding istana, tentu berbeda dengan adegan pertemuan dan pernikahan Sie Jin Kwie dan Liu Kim Hwa di kuil, misalnya. Ada pula suguhan wayang kulit lengkap dengan geber/layar putihnya. Ganti adegan, ganti set, berulangkali. Ada yang naik turun, juga yang digeser dari/ke arah kiri kanan panggung. Untung ada Sari Madjid, maestro manajemen panggung, yang bersama stafnya kerja keras memindah-letakkan set-set itu secara cepat dan tepat.Karena menggunakan panggung proscenium bentuk segi empat menjorok ke dalam dan menghadap barisan penonton di depan, maka selain materi yang konkrit dan masif ada pula materi yang hadir untuk membangun atmosfir adegan, yakni cahaya dan suara. Musik dpp. Idrus Madani (beberapa tahun belakangan merangkap jadi aktor sinetron aliran ”komedi”) didukung 11 pemusik handal dan 5 pesinden mengaransemen lagu dan bunyian agar adegan bertambah hidup. Nah, Totom Kodrat yang menjaga kualitas tata suara dan akustik, serta Iskandar K. Loedin menggarap pencahayaan berperan penting – meski nyaris sering dilupakan, lantaran posisinya ada di belakang tempat duduk penonton. Juga, Ratna Riantiarno, yang hadir di antara penonton, sebagai pimpinan produksi – kehandalannya tak perlu diragukan, dan sudah menurunkan ilmu kepada putrinya Dika, yang mendesign grafis seluruh materi publikasi

Kerja bareng yang komplit. Kelompok kesenian memang seharusnya dikelola dengan manajemen setara perusahaan profesional. Untuk menyuguhkan pentas teater skala besar, semua anggota kelompok menyumbangkan pikiran dan kemampuan sesuai job-discription -nya. Semua ikut andil. Wewarah tokoh teater selalu terngiang, ”Tak ada peran kecil, yang ada pemain (berjiwa) kecil.”

Penggarapan lakon Sie Jin Kwie kembali membuktikan bahwa Teater Koma bekerja keras menyuguhkan pentas – sebutlah multi media – yang kualitas sebanding dengan karya-karya seni rupa, musik, film, tari, dan film warga bangsa Indonesia. Presiden dan petinggi negara sudah bersedia menonton film di bioskop, sejajar dengan saudara-saudaranya sebangsa, tentu juga bakal menonton karya teater, karena – sekali lagi – karena kesenian adalah O 2 – oksigen yang menyegarkan dan menyeimbangkan kehidupan.

Beragam pesan terselubung hadir di pentas Sie Jin Kwie Teater Koma – karena memperingati 33 tahun kiprahnya, sekaligus menyemarakkan Tahun Baru Imlek. 2561. Ini kutipan kalimat bijak bakal calon penonton :

Memahami orang lain adalah bijak
Memahami diri sendiri adalah waspada
Menaklukan orang lain adalah isyarat kekuatan
Menaklukan diri sendiri isyarat kekuasaan
Tahu batas kecukupan berarti kaya
Bertindak terpaksa artinya nekad
Yang memaknai jati diri akan dikenang
Meski mati, sebetulnya berusia panjang
Jadi bermaknalah, maka kau diberkati
.

Selamat menjadi saksi.



Pamulang, 06-01-10
Penulis : Uki Bayu Sedjati
Foto-foto : Heryus Saputro